Sabtu, 25 Juni 2016

Budidaya Bawang Merah

BUDIDAYA  BAWANG MERAH
DAN PENANGANAN PERMASALAHANNYA

Oleh : Baswarsiati  
BPTP Jawa Timur
.

PENDAHULUAN

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan Jawa Timur yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya.  Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim, salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim.  Selain itu bawang merah merupakan komoditas yang tidak dapat disimpan lama, hanya bertahan 3-4 bulan padahal konsumen membutuhkannya setiap saat.
Masalah utama usahatani bawang merah di luar musim adalah tingginya resiko kegagalan panen karena lingkungan yang kurang menguntungkan , terutama serangan hama dan penyakit.  Hama dan penyakit penting pada bawang merah antara lain : ulat bawang (Spodoptera exigua) dan Thrips , sedangkan penyakitnya meliputi antraknose, fusarium dan trotol.
Keberadaan hama dan penyakit tersebut menyebabkan petani menggunakan pestisida secara berlebihan karena petani beranggapan bahwa keberhasilan usahatani ditentukan oleh keberhasilan pengendalian hama dan penyakit, yaitu dengan meningkatkan takaran, frekuensi dan komposisi jenis campuran pestisida yang digunakan.  Akibatnya biaya usatani bawang merah semakin tinggi dan keuntungan yang diperoleh tidak seimbang serta  tidak memperhatikan konsep pertanian ramah lingkungan. Dampak lain penggunaan pestisida yang berlebihan yaitu ledakan dari hama sekunder.
Untuk mengantisipasi masalah di atas salah satu usaha yaitu mencari dan menggali varietas-varietas bawang merah yang mempunyai sifat-sifat unggul terutama dalam hal produksi serta ketahanan terhadap hama dan penyakit utama sehingga varietas bawang merah tersebut mampu berproduksi walaupun serangan hama dan penyakit cukup berat. Bilamana varietas unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit diperoleh maka varietas tersebut dapat ditanam pada luar musim sehingga kesinambungan produksi bawang merah dapat terjamin.
Dari 141 varietas bawang merah yang ada termasuk varietas introduksi belum didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit di atas kecuali varietas Sumenep yang relatif tahan terhadap penyakit “Otomatis” tetapi tidak tahan terhadap penyakit “Alternaria”.  Sayangnya varietas ini tidak mampu berbunga  dan belum diketahui cara merangsang bunganya, serta berumur panjang walaupun mempunyai kualitas terbaik untuk bawang  goreng (Permadi, 1992).  Beberapa galur somaklonal dari varietas Sumenep sudah dihasilkan oleh Balitsa Lembang dan sudah dilakukan uji daya hasilnya di beberapa lokasi.  Hasil somaklonal dari varietas Sumenep mempunyai umbi yang lebih besar dengan warna yang lebih mengarah kemerah muda dibandingkan varietas Sumenep yang asli.  Diharapkan galur somaklonal Sumenep tetap mempunyai sifat tahan terhadap hama dan penyakit utama serta mempunyai umbi besar , warna menarik dan rasa bawang goreng yang lebih enak.
             
PERMASALAHAN

1. Adanya perbedaan produksi pada musim kemarau dan musim hujan

            Fluktuasi produksi  selalu terjadi pada usahatani bawang merah yang disebabkan  adanya perbedaan produksi di musim kemarau dan musim hujan.   Pada  musim hujan intensitas serangan hama terutama Spodoptera exigua dan penyakit seperti Fusarium, Alternaria dan Antraknose semakin tinggi.  Sehingga kegagalan panen sering terjadi pada musim hujan. Hal ini disebabkan pada musim hujan, kelembaban udara lebih tinggi dibandingkan musim kemarau sehingga intensitas serangan penyakit lebih tinggi. Sedangkan pada musim kemarau suhu udara lebih tinggi dibandingkan musim hujan sehingga intensitas serangan hama lebih tinggi dibandingkan intensitas serangan penyakit (Rosmahani et al, 1998)  Oleh karenanya produktivitas di musim hujan semakin menurun dan pasokan produksi juga menurun sehingga terjadi fluktuasi harga.  Sehingga diperlukan adanya varietas bawang merah yang sesuai untuk musim kemarau dan musim hujan

2 Belum cukup tersedia varietas unggul bawang merah yang resisten terhadap                       hama dan penyakit penting serta sesuai pada musim hujan

            Sampai saat ini belum  tersedia varietas unggul bawang merah yang resisten terhadap hama dan penyakit penting kecuali varietas Sumenep.  Sayangnya varietas Sumenep belum disukai konsumen bawang merah karena penampilan umbinya kurang menarik dengan warna umbi kekuningan dan bentuk umbinya lonjong dan kecil.  Namun somaklonal dari varietas Sumenep dapat menghasilkan umbi dengan ukuran yang lebih besar dari varietas  aslinya dan warna umbi merah muda. Selain itu varietas Sumenep sangat renyah dan enak untuk bawang goreng.  Dan nampaknya hasil somaklonal varietas Sumenep mempunyai daya adaptasi yang luas pada beberapa agroekologi di dataran rendah hingga dataran tinggi (Baswasiati et al, 2000)
            Varietas bawang merah yang selama ini ditanam oleh petani umumnya varietas yang sesuai ditanam di musim kemarau saja namun rentan terhadap serangan hama ulat grayak serta penyakit penting pada bawang merah. Seperti halnya 8 varietas unggul yang telah dilepas Pemerintah antara lain varietas Bima Brebes, Maja, Keling, Medan , Super Philip, Kramat-1, Kramat-2 dan Kuning hanya sesuai untuk musim kemarau.  Sedangkan varietas unggul bawang merah yang sesuai pada musim hujan dan telah dilepas Pemerintah hanya varietas Bauji .  Usahatani bawang merah pada musim kemarau menghasilkan pasokan produksi yang tinggi karena cukup banyak ragam varietas yang dapat ditanam di musim kemarau.  Seperti halnya di sentra produksi Brebes, petani menanam beragam varietas bawang merah yang ada , termasuk varietas Sumenep.  Sedangkan di Jawa Timur, petani hanya menanam varietas Super Philip karena produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan varietas lainnya.
            Pada musim hujan, petani tetap menggunakan varietas yang sesuai untuk musim kemarau seperti Super Philip, Bima, Kuning, Maja  karena keterbatasan varietas yang sesuai untuk musim hujan .  Varietas Bauji untuk sementara ini ditanam oleh petani di wilayah Nganjuk dan Kediri pada musim hujan, walaupun sebenarnya sudah dikenal petani Probolinggo dengan nama bawang Biru dan ditanam oleh petani Probolinggo pada musim kemarau dan musim hujan.

3. Ketergantungan petani bawang merah terhadap benih impor

            Dalam usahatani bawang merah, benih merupakan salah satu faktor produksi yang memerlukan biaya tinggi, dengan kebutuhan benih sekitar 800-1.200 kg/ha.  Tingginya kebutuhan benih bawang merah baik dalam bentuk benih komersial maupun benih sumber , ternyata belum diikuti produksi benihnya. Selain itu petani bawang merah di Indonesia nampaknya sangat tergantung terhadap benih impor seperti varietas Super Philip dan varietas dari  Thailand, India dan Vietnam (berkembang di daerah Brebes). Padahal benih impor varietas bawang merah yang tersebar di Indonesia merupakan bawang merah untuk konsumsi yang disimpan 2-3 bulan.  Hal ini karena belum banyak produsen yang mau bergerak di bidang  perbenihan bawang merah. (Indrawati dan Padmono, 2001) .  Kendala tersebut disebabkan antara lain : a) usaha perbenihan bawang merah membutuhkan modal yang cukup tinggi dan areal serta gudang yang luas, b) pengetahuan dan ketrampilan SDM terutama dalam produksi benih masih rendah , c) daya simpan benih bawang merah rendah (2-5 bulan ) dengan susut bobot yang tinggi , d) permasalahan penyimpanan benih dapat diatasi dengan pembentukan benih berupa biji, sayangnya ketrampilan ini cukup sulit disosialisasikan pada petani
             
4. Kendala dalam hal sosialisasi dan substitusi varietas unggul bawang merah

            Nampaknya selera produsen dan konsumen bawang merah di beberapa wilayah sentra produksi di Indonesia  cukup beragam dalam memilih dan mengembangkan suatu varietas.  Konsumen dan produsen bawang merah di Jawa Timur sangat menyukai varietas Super Philip karena produktivitasnya tinggi, umbi besar dan bulat, warna umbi menarik – merah keunguan mengkilat walaupun rasanya tidak terlalu pedas.  Oleh karenanya varietas Super Philip menyebar merata pada semua areal pertanaman bawang merah di Jawa Timur dengan luasan 25.000 hektar dan selalu dijumpai di pasar wilayah Jawa Timur.          
            Sedangkan di wilayah Kabupaten Brebes sebagai sentra produksi bawang merah terbesar di Indonesia (dengan luas areal tanam 16.993 hektar) dan di Jawa Tengah pada umumnya (dengan luas areal tanam 55.578 hektar) terdapat varietas bawang merah yang beragam (Diperta Propinsi Jateng, 2001).  Varietas-varietas yang dikembangkan di Jawa Tengah terdiri dari varietas lokal dan varietas introduksi , antara lain : Bima Brebes, Kuning, Sumenep, Ampenan, Maja Cipanas, Medan, Tawangmangu Baru, Super Philip, India, Thailan dan Vietnam (Indrawati dan Padmono, 2001).  Hal ini menunjukkan perbedaan selera konsumen dan produsen di beberapa wilayah   yang mempengaruhi terhadap perkembangan suatu varietas unggul/varietas baru.
            Seperti halnya varietas Bauji  yang telah dilepas menjadi varietas unggul untuk musim hujan  nampaknya baru berkembang di daerah asalnya yaitu di kabupaten Nganjuk dan sekitarnya.  Usaha untuk sosialisasi varietas Bauji sudah dilakukan pada setiap kesempatan , baik  secara formal dan non formal seperti Temu Lapang, Pelatihan dan pertemuan dan wawancara langsung dengan petani bawang merah .  Namun sampai saat ini varietas Bauji baru berkembang dengan luas areal tanam sekitar 5.000 hektar.  Hal ini karena produktivitas varietas Bauji lebih rendah dibandingkan varietas Super Philip bila ditanam di musim kemarau .  Sedangkan pada musim hujan, varietas Bauji lebih unggul dibandingkan varietas Super Philip.  Selain itu oleh para tengkulak , hasil panen varietas Bauji dihargai lebih rendah dibandingkan varietas Super Philip sehingga petani memilih menanam varietas Super Philip walaupun musim hujan.  Dan keterbatasan produsen benih varietas Bauji dengan usaha dalam skala kecil yang hanya berada di Nganjuk dan beberapa di Kediri mempengaruhi ketersediaan benih varietas tersebut.

PEMILIHAN VARIETAS

  Banyak varietas bawang merah yang dibudidayakan di Indonesia.  Sampai saat ini perbanyakan dari varietas-varietas tersebut dilakukan secara vegetatif dengan umbi, padahal varietas tersebut mampu berbunga dan berbiji secara alami kecuali varietas Sumenep.  Karena selalu dibiak secara vegetatif maka praktis tidak ada perubahan susunan genetiknya dan karena itu sampai sekarang tidak didapatkan varietas yang tahan terhadap penyakit daun yang sering menggagalkan pertanaman bawang merah (Permadi, 1992).
Terdapat dua varietas unggul bawang merah yang baru dilepas oleh Menteri Pertanian pada bulan Maret 2000 dan usulan pelepasannya dilakukan oleh BPTP Jawa Timur.  Kedua varietas tersebut adalah Super Philip (atau lebih dikenal oleh petani sebagai varietas Philipine) dan varietas Bauji yang berasal dari Kediri/ Nganjuk .  Serta satu varietas yaitu Batu Ijo yang masih dalam proses pelepasannya.
Varietas Bauji merupakan varietas lokal yang belum banyak dikenal oleh petani bawang merah.  Namun di sentra produksi bawang merah Nganjuk dan Kediri sudah umum di tanam di musim hujan.  Keragaan tanaman varietas Bauji agak berbeda dengan varietas Super Philip terutama pada penampilan daun dan umbinya.  Daun bawang merah varietas Bauji lebih ramping (kecil) dengan warna lebih hijau dan sudut antara daun lebih kecil dibanding Super Philip.  Varietas Bauji bila ditanam di musim hujan nampak lebih kekar dibanding varietas Super Philip dan beberapa varietas lain seperti Bima, Ampenan, Kuning dan sebagainya.  Namun bila Bauji ditanam di musim kemarau kurang vigour pertumbuhannya dibandingkan varietas Super Philip.  Varietas Bauji akan tumbuh dan berproduksi lebih baik di musim hujan karena varietas ini lebih menyukai pada kelembaban udara yang tinggi dan tahan terhadap curah hujan yang tinggi mulai awal pertumbuhan sampai tanaman dipanen.  Sedangkan varietas bawang merah lainnya kecuali varietas Sumenep sudah tidak mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik karena daunnya sudah hancur terkena air hujan (Baswarsiati dkk, 1995 dan 1996; Rosmahani dkk, 1997; Korlina dkk, 1998).
  Dari hasil pengujian tersebut tampak bahwa produktivitas varietas Bauji lebih tinggi dibanding varietas pembanding lainnya kecuali dengan Bali Ijo bila ditanam di musim hujan.  Hasil umbi kering bisa mencapai 13,65 ton per hektar dengan jumlah anakan per rumpun lebih dari 10 serta tinggi tanaman di atas 35 cm.  Ciri penting dari varietas Bauji yaitu daunnya nampak lebih langsing (sempit) dengan warna daun hijau tua, daun tebal, sudut daun kecil (lebih tegak), warna umbi merah keunguan mengkilat, bentuk umbi bulat lonjong dan daun nampak kekar bila ditanam di musim hujan.
  Varietas bawang merah Bauji yang merupakan varietas lokal asal Nganjuk telah dilepas dengan Keputusan Menteri Pertanian  No 65/Kpts/TP.240/2/2000 sebagai varietas unggul untuk musim hujan karena memiliki daya hasil tinggi dan stabil, toleran terhadap kelembaban udara tinggi dan curah hujan tinggi.
Sedangkan bawangmerah varietas Philipine yang merupakan introduksi dari Philipine, sudah lebih dari 15 tahun dikenal dan ditanam petani dan telah menyebar ke berbagai sentra produksi bawangmerah .  Saat ini di Jawa Timur, hampir seluruh petani bawangmerah menanam varietas Philipine dan tidak lagi menanam varietas bawangmerah lokal seperti Ampenan, Bima yang dulu sebelum munculnya varietas Philipine mendominasi varietas bawangmerah yang ditanam petani. Luas tanam bawang merah varietas Philipine hampir di seluruh areal pertanaman bawang merah di Jawa Timur yaitu sekitar 24.610 hektar  (Diperta Prop. Jatim, 1998)
Keistimewaan varietas Super Philip adalah bentuk umbi bulat dengan warna merah keunguan mengkilat, umbi besar dengan rata-rata 8-10 g/umbi dan hal ini sangat disukai konsumen.  Selain itu varietas Philipine mampu bertahan dipenyimpanan lebih dari 4 bulan.  Tinggi tanaman bisa lebih 40 cm dan bila ditanam di dataran tinggi dengan kondisi tanah subur bisa mencapai tinggi lebih 50 cm.  Jumlah anakan berkisar 10-12, umur panen 55-60 hari bila ditanam di dataran rendah dan 70 hari bila ditanam di dataran medium sampai tinggi. Sedangkan produktivitas varietas Philipine yaitu 17 – 18 t/ha umbi kering  Oleh karenanya varietas Philipine telah dilepas oleh Menteri  Pertanian menjadi varietas unggul dengan nama Super Philip berdasarkan  Keputusan No 66/Kpts/TP.240/2/2000.
Varietas Batu Ijo merupakan varietas lokal asal Batu yang telah ditanam petani kawasan Batu puluhan tahun dengan nama asal Bali Ijo. Varietas ini telah diusulkan pelepasannya karena mempunyai beberapa kelebihan antara lain umbi sangat besar (> 20 gram/umbi) mirip dengan bawang Bombay. Jumlah anakan sedikit 2-5 anakan per rumpun. Daun tanaman lebih lebar seperti bawang daun.  Batu Ijo sesuai ditanam di musim kemarau , di dataran rendah hingga dataran tinggi (10-1300 m dpl).
   
KESESUAIAN AGROEKOLOGI
            Persyaratan kesesuaian agroekologi untuk usahatani bawang merah terutama ditentukan oleh kelembaban, tekstur, struktur dan kesuburan tanah.  Secara umum tanaman bawang merah memerlukan bulan kering 4-5 bulan , curah hujan 1000-1500 mm/th, drainase dan kesuburan baik, tekstur lempung berpasir dan struktur remah (Widjajanto et al, 1998).  Sedangkan setiap varietas bawang merah mempunyai daya adaptasi yang lebih khusus pada agroekologi tertentu , seperti halnya varietas Super Philip dan Bauji.
     Bawangmerah varietas Super Philip dapat diusahakan mulai di dataran rendah hingga di dataran tinggi, yaitu 20 m – 1000 m dpl. Sangat sesuai ditanam di musim kemarau dengan sinar matahari dibutuhkan sebanyak-banyaknya dan lahan tidak ternaungi. Tanah yang diinginkan yaitu berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5.  Dapat dibudidayakan di lahan sawah, lahan kering atau lahan tegalan, dengan jenis tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol  (Baswarsiati et al, 1998).
   Bawangmerah varietas Bauji dapat diusahakan di dataran rendah yaitu 20 m –400 m dpl ,sangat sesuai ditanam di musim hujan.. Tanah yang diinginkan berdrainase baik dan kesuburan tinggi, tekstur lempung berpasir dan struktur remah dengan pH 6-6,5.  Dapat dibudidayakan di lahan sawah, dengan jenis tanah bervariasi dari Aluvial, Latosol dan Andosol  (Baswarsiati et al , 1998).

·         PEMILIHAN BIBIT

            Bibit merupakan salah satu kunci utama dalam keberhasilan suatu usahatani .  Adapun persyaratan bibit bawang merah yang baik antara lain :
·         Umur simpan bibit telah memenuhi , yaitu sekitar 3-4 bulan, walaupun untuk umur simpan yang lebih muda bibit tetap tumbuh namun pada pertumbuhan berikutnya akan lebih rendah hasilnya dibandingkan bibit yang telah siap tanam (telah cukup umur simpannya).
·         Umur panen saat calon umbi bibit ditanam di lapang  , untuk varietas Bauji maupun Super Philip sebaiknya 65 – 70 hari
·         Ukuran bibit sedang , sekitar 5-6 gram .  Penggunaan bibit yang berukuran terlalu besar akan meningkatkan biaya karena kebutuhan bibit semakin banyak
·         Kebutuhan bibit setiap hektar berkisar 800 – 1000 kg , tergantung dari besarnya bibit. Dan biaya untuk pembelian bibit sekitar separo dari seluruh biaya produksi.
·         Umbi bibit berwarna merah cerah, dengan kulit mengkilat
·         Umbi bibit bernas , sehat, padat , tidak keropos dan tidak lunak.  Bila ada umbi bibit yang tidak mempunyai sifat demikian sebaiknya tidak digunakan sebagai bibit.
·         Umbi bibit tidak terserang hama dan penyakit
·         Sebelum ditanam, umbi bibit dibersihkan dulu dari kulit-kulit yang kering dan bila pertunasan belum kelihatan diujung umbi, maka sebaiknya ujung umbi dipotong 1/3 agar mempercepat  munculnya tunas
           

PENGOLAHAN TANAH

Bawang merah  membutuhkan kondisi tanah yang lebih gembur dibanding tanaman sayuran lainnya .  Oleh karenanya pengolahan tanah pada bawang merah dilakukan sampai beberapa kali hingga tanah benar-benar menjadi gembur.  Bila tanah yang digunakan merupakan tanah bekas ditanami jagung maupun tebu, maka sisa tanaman tersebut harus dibersihkan hingga akar-akarnya supaya tidak mengganggu pertumbuhan bawang merah. Dapat juga menggunakan herbisida sebelum tanah di olah untuk mematikan rumput dan gulma lainnya ,seperti Goal maupun Roundup yang diberikan dua minggu sebelum tanah diolah. Tanah diolah dengan cara dibajak lebih dari 4 kali hingga tanah menjadi gembur dan tanah dikeringkan lebih dari seminggu .Kemudian tanah dihaluskan lagi, setelah halus dapat dibuat bedengan dengan ukuran
Untuk musim kemarau : tinggi bedengan 25 cm
                                        kedalaman parit 30-40 cm
                                        lebar parit 50 cm.
Untuk musim hujan      : tinggi bedengan 40 cm
                                        kedalaman parit  50 cm
                                        lebar parit 50 cm.
Pada budidaya bawang merah sangat diperlukan pembentukan bedengan, dimana adanya bedengan berfungsi agar tanaman bawang merah tidak selalu tergenang air , dan air yang disiramkan segera habis terserap.  Setelah bedengan terbentuk, maka ditaburi pupuk kotoran ternak (pupuk kandang ) yang sudah benar-benar matang, ditandai dengan kotoran ternak sudah seperti tanah yang gembur.  Dosis untuk kotoran ayam sebanyak 5 ton/ha, sedangkan untuk kotoran sapi maupun kambing sekitar 10-15 ton/ha.  Namun dosis ini bisa menjadi lebih banyak maupun lebih sedikit tergantung dari kesuburan tanah.               
Pupuk kandang yang diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan merupakan perlakuan pemberian pupuk dasar   .  Selain itu diberikan juga pupuk SP 36 dengan dosis 200 kg/ha swebagai pupuk dasar , yang ditaburkan merata pada seluruh permukaan bedengan.  Pupuk kandang maupun SP 36 diberikan seminggu sebelum tanam. Setelah tanah dipupuk maka tanah diairi agar pupuk dapat meresap ke dalam tanah.
PENANAMAN
Musim tanam optimal untuk bawang merah yaitu pada akhir musim hujan  bulan Maret – April dan musim kemarau Mei – Juni, tetapi di daerah pusat produksi dapat dijumpai penanaman bawang merah tanpa mengenal musim,  Untuk penanaman di luar musim (off season) perlu memperhatikan pengendalian hama dan penyakit lebih cermat.
Penanaman dilakukan setelah tanah dan bibit sudah dipersiapkan, dimana sebelum dilakukan penanaman tanah harus diari agar saat penanaman kondisi tanah gembur  Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa bibit sebelum ditanam lebih baik dibersihkan dan diseleksi terlebih dulu agar pertumbuhan tanaman menjadi baik.  Bila tidak diseleksi ditakutkan tercampurnya bibit yang jelek karena terserang penyakit seperti Fusarium , maka akan mengakibatkan pertanaman hancur karena Fusarium tersebut. Pembersihan bibit dilakukan sehari sebelum ditanam serta ujung bibit sudah dipotong , dan esoknya dapat dilakukan penanaman.
Untuk mempercepat proses penanaman, maka sebaiknya bedengan  yang akan ditanami sudah digariti sesuai dengan jarak tanam yang digunakan , sehingga penanaman lebih mudah dilaksanakan.  Jarak tanam yang dianjurkan yaitu 20 cm x 15 cm, namun bila umbi bibit besar maka dapat menggunakan jarak tanam 20 x 20 cm.  Penanaman dilakukan dengan cara menanam 2/3 bagian umbi ke dalam tanah, sedangkan 1/3 bagiannya muncul di atas tanah.
PENGAIRAN
Bawang merah membutuhkan air dalam kondisi yang cukup sejak pertumbuhan awal hingga menjelang panen.  Air yang diberikan pada tanaman walaupun dengan cara penggenangan/leb, namun harus segera meresap ke dalam tanah.  Bila tidak demikian maka tanaman akan menjadi busuk dan sebagai sumber penyakit.  Oleh karena itu pembuatan bedengan sangat diperlukan pada budidaya bawang merah .  Hal ini berhubunga sifat tanaman bawang merah yang membentuk umbi di dalam tanah sehingga air yang terlalu banyak akan membuat umbi menjadi busuk .
Pada musim kemarau , pengairan dapat diberikan setiap hari sejak tanaman ditanam hingga tanaman membentuk umbi dan dikurangi setelah umbi terbentuk.  Namun walaupun musim kemarau , bila kondisi tanah setelah diairi dan selang dua hari tanah masih basah, maka tanaman tidak perlu diairi.  Oleh karena itu dituntut kepekaan petani dalam mengamati kebutuhan air bagi tanamannya.
Untuk musim hujan pengairan yang dibutuhkan lebih sedikit yaitu selang dua hari sekali.  Seperti di atas maka yang penting melihat kondisi kelembaban tanah, bila tanah masih lembab sebaiknya tidak perlu diairi.  Yang penting diamati yaitu setelah turun hujan, sebaiknya tanaman bawang merah disirami dengan air bersih yang tujuannya untuk menghilangkan inokulum dari penyakit yang kemungkinan menempel di daun.
Cara pengairan dapat dilakukan dengan penggenangan/leb maupun denan cara disiram/disirat.  Kedua cara tersebut sebenarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan.  Untuk cara leb sebaiknya dilakukan pada kondisi tanah yang porous, sehingga air yang tergenang cepat habis (tuntas), walaupun cara ini membutuhkan waktu yang lebih pendek dibandingkan cara disiram.  Sedangkan cara siram membutuhkan tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama.  Namun di daerah tertentu kedua cara tersebut juga dilakukan bersamaan .
PEMUPUKAN
Pemupukan pada bawang merah sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan produksi umbi yang lebih baik.  Namun pemupukan tidak perlu diberikan secara berlebihan karena pupuk malahan akan terbuang dengan percuma. Seperti misalnya setelah tanaman membentuk umbi, maka sebaiknya pemupukan dihentikan.  Terkadang ada petani yang tetap memberikan pupuk walaupun tanaman telah berumur diatas 4- hari, dan ini hanya membuang pupuk dengan sia-sia.

Dosis pupuk

Dosis pupuk sebenarnya bukan merupakan patokan yang harus ditepati, karena memupuk suatu tanaman akan berbeda pada setiap kondisi kesuburan tanah yang berbeda.   Namun dosis pupuk yang dapat dianjurkan pada jenis tanah aluvial, seperti daerah Banyuanyar, Probolinggo maupun Sidokare-Rejoso, Nganjuk seperti berikut. Pupuk dasar menggunakan 10 t/ha pupuk kandang dan SP 36 200 kg/ha yang diberikan 7 hari sebelum tanam.  Sedangkan pemupukan berikutnya menggunakan pupuk urea 200 kg/ha, ZA 450 kg/ha dan KCl 200 kg/ha yang diberikan separo-separo pada saat tanaman berumur 15 hari dan 30 hari setelah tanam. Cara pemupukan dengan meletakkan pada larikan di sekitar tanaman, kemudian ditutup dengan tanah.
  Pemberian pupuk pelengkap yang banyak beredar di pasar sebenarnya kurang bermanfaat bagi peningkatan pertumbuhan dan produksi bawang merah.  Namun pupuk pelengkap tersebut hanya sebagai tambahan nutrisi pelengkap karena pada umumnya mengandung unsur mikro.  Untuk tanaman bawang merah, unsur mikro kurang diperlukan karena tanaman bawang merah berumur pendek yaitu sekitar 60-70 hari.  Sedangkan unsur mikro proses pelarutannya dan penyerapannya ke dalam tanaman lama sehingga lebih sesuai bagi tanaman sayuran yang berumur panjang seperti cabai atau tomat.

PENGENDALIAN GULMA

Gulma merupakan tumbuhan pengganggu yang menyebabkan tanaman utama terganggu pertumbuhannya.  Untuk tanaman bawang merah yang umbinya terbentuk di dalam tanah maka kehadiran guilma sangat mengganggu karena pembersihan gulma harus hati-hati dan ditakutkan mengenai dan mengganggu umbinya. Pembersihan gulma dilakukan dengan cara menyiang dengan intensif sesuai dengan kondisi gulma yang ada dengan cara mencabut gulma sampai terangkat akar-akarnya serta menggunakan herbisida pra tumbuh dengan dosis sesuai anjuran.
Cara membersihkan dan mencabut gulma harus hati-hati supaya tidak mengganggu tanaman bawang merah apalagi bila sudah berumbi.  Pembersihan biasanya menggunakan alat seperti sosrok bambu kecil sehingga gulma dapat terangkat sampai ke akarnya.  Bila tanaman sudah membentuk umbi yang agak besar maka sebaiknya pengendalian gulma dihentikan.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Hama Ulat Bawang

Biologi dan Potensi Serangan

Ulat Spodoptera exigua dijumpai hampir pada setiap umur tanaman bawang merah. Ulat berukuran panjang sampai + 25 mm, berwarna hijau atau coklat dengan garis tengah berwarna kuning. Serangga dewasa meletakkan telur pada daun bawang merah dan gulma yang tumbuh disekitarnya. Siklus hidup hama ini sempurna yaitu telur, larva, pupa dan imago yang berupa ngengat (Duriat, dkk., 1994). Pada saat awal pertumbuhan bawang merah, biasanya dijumpai kelompok telur dan larva stadia awal (instar 1 atau 2). Populasi ini akan terus meningkat mulai tanaman berumur 2 minggu sampai tanaman  di panen. Fye dan Mc Ada (1972) dalam Smits (1987), lamanya daur hidup ulat sangat tergantung pada temperatur. Temperatur yang makin tinggi akan memperpendek lamanya stadia telur, larva, pupa dan ngengat. Periode ngengat berkisar antara 10 – 20 hari. Setiap individu betina dapat bertelur antara 500 – 600 butir. Setelah 2 – 6 hari telur menetas, larva membuat lubang pada permukaan daun kemudian masuk ke bagian dalam  daun. Larva mempunyai 5 – 6 stadia dengan kisaran umur 8,20 – 18,70 hari. Fase pupa  berkisar 5,10 – 7,70 hari. Pada bulan Agustus – Oktober, kemampuan ngengat untuk bertelur lebih tinggi (Sutarya , 1996).
Ulat menyerang tanaman dengan cara memakan daun bagian dalam, daun bawang merah tinggal epidermisnya saja, sehingga pada daun terlihat bercak-bercak putih transparan. Serangan hama ini kerusakan dapat  menyebabkan kehilangan hasil 56,94 – 57 % (Dibyantoro, 1993; Sastrosiswoyo, 1994), bahkan pada daerah Kab. Probolinggo pada saat tanam bulan Agustus dapat menyebabkan kerusakan 100 % sehingga menyebabkan puso ( Rosmahani dkk., 2001)
Hama ini termasuk hama yang menyerang banyak spesies tanaman inang.  Menurut Smits (1987), hama ini mempunyai lebih dari 200 spesies tanaman inang yang termasuk dalam  lebih dari 40 famili yang berbeda, namun tanaman inang yang utama adalah keluarga bawang-bawangan, cabai merah dan jagung (Duriat dkk., 1994).
Kondisi Pengendalian Saat Ini
  Pola tanam yang umum dikerjakan oleh petani bawang terutama dilahan irigasi, adalah padi – bawang merah – bawang merah – bawang merah atau padi – bawang merah – cabai merah – bawang merah.  Padi ditanam pada musim penghujan. Waktu yang dipilih untuk merotasi tanah dengan tanaman padi tidak serentak. Sejak akhir musim penghujan sampai dengan pertengahan musim penghujan berikutnya petani menanam bawang merah pada lahannya atau kadang-kadang di sela dengan tanaman jagung. Pola tanam demikian merupakan pola tanam yang tidak memutus siklus hidup hama S. exigua. Keadaan ini menyebabkan tersedianya semua stadia pertumbuhan bawang merah serta tersedianya inokulum hama ulat S. exigua. dalam areal yang luas di lapangan.
  Penggunaan insektisida untuk mengendalikan hama ulat S. exigua masih menjadi andalan utama para petani, sehingga insektisida menjadi jaminan utama untuk keberhasilan usahatani. Menurut Stallen dkk.(1990) di sentra produksi bawang merah, petani umumya mengendalikan ulat dengan menggunakan insektisida yang beredar di pasaran dengan frekuensi dan dosis yang cukup tinggi. Volume larutan insektisida yang digunakan pada setiap aplikasi berkisar 560 – 1.588 liter per ha. Petani melakukan penyemprotan secara berkala 3 – 4 hari sekali, sehingga dalam satu musim tanam melakukan penyemprotan 15 – 20 kali (Dibyantoro, 1995), bahkan pada musim tanam bulan Agustus interval penyemprotan meningkat menjadi 1 – 2 hari sekali, sehingga dalam satu musim tanam dapat mencapai 50 kali aplikasi insektisisda (Rosmahani dkk., 1998). Jika udara panas terus menerus, maka pengendalian ulat dengan  cara mekanis ( mengambil dan membuang kelompok telur maupun ulat) dan dengan cara aplikasi insektisida (interval 1 –2 hari sekali) tetap tidak dapat mengendalikan populasi ulat  S. exigua yang meningkat cepat dalam waktu satu minggu dapat menyebabkan tanaman bawang merah puso (Rosmahani  dkk., 2001)
Alternatif Pengendalian Secara Fisik
  Sampai saat ini telah banyak hasil penelitian yang menyajikan komponen –komponen pengendalian yang dapat dirakit dalam satu pengendalian secara PHT. diantaranya adalah penerapan budidaya tanaman sehat, pergiliran tanaman, penanaman serentak, pengendalian secara mekanis, penggunaan seks feromon, penggunaan alat semprot yang tepat, pengendalian secara hayati. Namun jika lingkungan sudah kurang sesuai bagi pertanaman bawang merah, terutama pada saat tanam bulan Agustus, yang pada saat tersebut temperatur udara sangat panas ( diatas 29 ° C), tidak ada curah hujan, sumber infeksi hama sudah tersedia di sekitar pertanaman karena sudah ada pertanaman sejak awal musim kemarau, populasi hama dapat meningkat dengan sangat cepat dalam waktu 1-2 hari diperlukan alternatif komponen pengendalian yang lain.  Komponen pengendalian yang harus disertakan adalah pengendalian fisik dengan jalan memberikan kerodong kasa (Gambar 1.) pada seluruh tanaman dengan tinggi kerodong 175 cm, yang dipasang sejak sebelum bibit bawang merah ditanam sampai saat panen. Pada keadaan ini petani masih dapat masuk kedalam lerodong kasa untuk melakukan aktivitas pemeliharaan tanamannya a.l.: tanam, aplikasi herbisida, penyiangan, penyiraman, monitoring serangan hama, pengendalian  hama ulat secara mekanis dan panen.
  Kasa dibuat dari bahan plastik dengan ukuran  lubang 17 mesh. Pengendalian dengan cara ini sudah mulai dilakukan oleh petani di Kab. Probolinggo sejak 6 – 8 tahun terakhir, dikombinasikan monitoring serangan ulat , dua kali seminggu,  pengendalian mekanis yaitu mengambil dan membuang kelompok telur dan ulat yang ada pada daun dan permukaan atas kerodong kasa, aplikasi insektisida 1 – 2 kali per musim tanam jika serangan hama thrips meningkat. Penggunaan kerodong kasa ini dapat mengurangi bahkan meniadakan  penggunaan insektisida kimia, sehingga efek negatif penggunaan insektisida juga dapat ditiadakan. Kerodong kasa dapat diterapkan pada luasan pertanaman yang sempit maupun yang luas namun pada umumnya ukuran kerodong kasa yang diterapkan oleh petani per unit antara 500 m2 sampai 2000 m 2. Keberhasilan pengendalian hama ulat dengan menggunakan kerodong kasa ini dapat mencapai 100 % dan bawang merah dapat dipanen dengan hasil optimal. Biaya penggunaan kerodong kasa untuk pertanaman bawang merah dengan luas lahan 1300 m 2 adalah sebesar Rp. 1.652.500,- (Analisa biaya tertera pada Lampiran 1.). Biaya penggunaan kerodong kasa ini setara dengan biaya aplikasi penggunaan insektisida. Namun kerodong kasa ini dapat digunakan untuk 6 – 8 kali musim tanam bila perawatan kasa dilakukan dengan baik (Rosmahani, dkk., 2001).       
  Keberhasilan kerodong kasa  pada usahatani bawang merah ini    adalah sebagai barier fisik bagi masuknya hama ulat S. exigua pada pertanaman bawang merah.  Ukuran lubang bahan kerodong kasa  adalah sebesar 17 mesh, sehingga ngengat yang datang tidak dapat masuk kedalam pertanaman bawang  merah. Jika ngengat hinggap pada permukaan bagian atas kerodong kasa dan bertelur maka masih ada kemungkinan telur untuk jatuh pada daun bawang merah di dalam kerodong kasa. Hal ini dapat ditanggulangi dengan pengendalian mekanis yaitu dengan mengambil dan membuang kelompok telur yang ada pada tanaman bawang merah. Secara tidak langsung secara ekologis kerodong kasa dapat  membantu memperbaiki lingkungan tumbuh bawang merah pada saat musim kemarau (saat tanam bulan Agustus).  Pada saat tanam tersebut udara panas dan kering , dengan temperatur udara > 30 °C. Pada kondisi udara yang panas dan kering daun bawang merah  dapat mengalami respirasi yang  tinggi (Sumami dan Rosliani, 1995), keadaan ini menyebabkan tanaman menjadi lemas, dan lemah. Penggunaan kerodong kasa secara fisik juga dapat mengurangi  intensitas sinar matahari dan  respirasi tanaman sehingga pertumbuhan tanaman bawang merah dapat berlangsung dengan normal sehingga dapat menghasilkan umbi dengan baik. Selain itu penggunaan kerodong kasa menyebabkan pengurangan penggunaan insektisida  dalam jumlah besar sehingga juga dapat menekan efek negatif insektisida baik di lapangan maupun di tingkat kosumen.
Potensi Pengembangan Teknologi
Potensi pengembangan teknologi nampaknya cukup bagus. Luas pertanaman  bawang merah yang menggunakan kerodongkasa pada tahun 2001 di Kab. Probolinggo mencapai  210 ha (Rosmahani, dkk., 2001).  Pengembangan teknologi dapat dicapai yaitu dengan cara sosialisasi penerapan kerodong kasa secara bertahap yang dimulai dari petani disekitar petani yang telah menggunakan, meluas kepada petani disekitarnya. Kegiatan ini membutuhkan waktu yang tidak singkat mengingat petani sudah sangat terbiasa selama bertahun-tahun mengendalikan hama dan penyakit bawang merah secara konvensional dengan pestisida kimia sintetik. Perubahan praktek pengendalian organisme pengganggu tumbuhan secara konvensional ke sistem PHT perlu dilakukan secara bertahap melalui program pelatihan dan penyuluhan yang intensif (Untung, 1993).
Selain itu beberapa hal perlu dicermati agar pengembangan penerapan kerodong kasa sebagai pelengkap komponen PHT dapat berlangsung  yaitu:
Hal-hal yang dapat memacu keberhasilan penerapan kerodong kasa pada bawang merah a.l:
·         Semakin banyak petani yang mengikuti program SLPHT
·         Semakin mahalnya harga pestisida kimia sintetik
·         Semakin seringnya petani mengalami kegagalan dalam penggunaan pestisida kimia saja
·         Kesadaran masyarakat konsumen maupun perodusen bawang merah akan bahaya residu pestisida kimia sintetik
Hal-hal yang masih menjadi penghambat keberhasilan penerapan kerodong kasa sebagai komponen pelengkap PHT pada bawang merah a.l:
·         Semakin sempitnya kesempatan memiliki lahan garapan sendiri. Semakin banyak petani yang menggadaikan lahan garapannya untuk selama lebih dari dua tahun, karena keterbatasan penghasilan, keterbatasan modal usaha. Petani berubah menjadi penggadu untuk lahannya sendiri sebab sarana produksi disediakan oleh pemilik modal, padahal pemilik modal tidak berada ditempat dan tidak mau tahu dengan keadaan ekosistem dilahan garapan, sehingga untuk keperluan usahatani bawang merah disediakan pestisida kimia dalam jumlah banyak. Petani sulit menentukan pilihan pengendalian lain selain penggunaan pestisida kimia.
·         Pemilik toko pertanian sering meminjamkan modal berupa pupuk dan pestisida yang dapat dibayar jika saat panen tiba.
·         Kurangnya kelompok tani yang dapat menghimpun petani untuk memecahkan persoalan usahatani, termasuk pengusahaan pinjaman modal untuk penerapan kerodong kasa pada tanaman bawang merah dalam areal luas.
Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)
·         Gejala serangan, tanaman kurus kekuningan dan busuk bagian pangkal
·         Tanaman mudah tercabut karena pertumbuhan akar terganggu dan membusuk
·         Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimusnahkan
·         Pencegahan di daerah endemis Fusarium, perlu perlindungan bibit dengan menaburkan fungisisda dosis 100 gram/100 kg bibit yang diberikan dua tau tiga hari sebelum tanam
·         Di daerah endemis sebelum tanam, tanah yang sudah diolah diberi fungisida seperti Fapam sebanyak 2 cc/l, untuk mematikan patogen dan Fusarium


Penyakit Becak Ungu /Trotol (Alternaria porri)
·         Gejala awal serangan pada daun menimbulkan bercak berukuran kecil, berwarna putih dengan pusat berwarna ungu
·         Ujung daun mengering bahkan daun dapat patah
·         Bila tanaman terkena hujan atau embun, segera disiram air bersih untuk mengurangi penularan spora penyakit yang menempel pada daun
·         Pengendalian dengan menggunakan fungisida selektif dengan dosis sesuai anjuran, bila intensitas serangan mencapai 5 % tanaman terserang perlu
  Yang perlu diperhatikan dalam pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida yaitu :
·         Memilih pestisida yang tepat , sesuai target hama atau target penyakit
·         Jangan menggunakan pestisida lebih dari 1 macam pada satu waktu penyemprotan
·         Gunakan beberapa macam pestisida secara bergantian , agar hama dan penyakit tidak kebal terhadap satu macam pestisida
·         Jangan menggunakan dosis yang berlebihan karena tidak efektif dan akan menambah biaya produksi
·         Waktu penyemprotan agar diperhatikan , sebaiknya sebelum matahari terbit atau sore hari
·         Cara penyemprotan tepat mengenai sasaran serta searah dengan angin

PENINGKATAN MUTU DAN HASIL PANEN
·         Umur panen tergantung varietas, namun dapat menggunakan dasar :                         untuk konsumsi  : 50-60 hari setelah tanam (di dataran rendah)
70-75 hari setelah tanam (di dataran tinggi _
kerebahan daun 70-80 %
     untuk umbi bibit :  65-70 hari setelah tanam (di dataran rendah)
80-90 hari setelah tanam (di dataran tinggi _
kerebahan daun 90 %
·         Waktu panen udara cerah dan tidaj basah
·         Keseluruhan daun tampak menguning
O         Sebagian umbi nampak tersembul keluar
·         Cara panen dengan mencabut keseluruhan tanaman secara hati-hati
·         Hasil panen diikat 1-1,5 kg setiap ikatan
·         Pelayuan atau curing sebelumbawang merah dikeringkan  dengan menjemur 2-3 hari di bawah terik sinar matahari
·         Pengeringan dilakukan 7-14 hari, hingga mencapai susut bobot 25-40 % atau sampai kering askip
·         Untuk mengetahui kesiapan umbi kering askip yaitu menyimpan sedikit contoh dalam kantong plastik putih selama 24 jam, bila sudah tidak ada titik air dalam kantong, berarti sudah mencapai kering askip
·         Penyimpanan bawang merah dapat dilakukan di atas perapian , menggunakan para-para bambu dan di bawahnya diberi pengasapan
·         Penyimpanan di ruang berventilasi sangat baik karena mempunyai sirkulasi udara yang baik dan dapat mencegah serangan hama dan penyakit seperti rumah sere dan gudang berpembangkit vorteks (mengubah aliran udara jenuh dalam gudang, dengan menghembus ke atas keluar gudang dan digantikan udara luar yang lebih bersih oleh adanya vorteks).
·         Sortasi dilakukan untuk memisahkan umbi yang sehat , utuh dan menarik dengan umbi yang telah rusak.  Sortasi dapat meningkatkan nilai jual dan mencegah penularan penyakit
·         Grading dilakukan untuk menentukan tingkat mutu produk, sehingga harga dapat ditentukan sesuai mutunya.  Grading dilakukan dalam beberapa kelas yaitu kelas I diameter > 2,5 cm, kelas II =1,5-2,5 cm , kelas III < 1,5 cm.

DAFTAR  PUSTAKA
Baswarsiati, L. Rosmahani dan F. Kasijadi.  1998.Rakitan Teknologi Usahatani Bawang Merah dalam Monograf Rakitan Teknologi.  BPTP Karangploso.
Baswarsiati, L. Rosmahani dan E. Korlina. 2000. Review pengkajian sistem usahatani bawang merah di lahan sawah. Eds. Soetjipto P.H. dkk. Prosid. Sem. Hasil Penelitian/Pengkajian Teknologi Pertanian Mendukung Ketahanan Pangan Berwawasan Agribisnis. Badan Litbang Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. 392 – 402.
__________, L. Rosmahani, E. Korlina, E.P. Kusumainderawati, D. Rachmawati dan S.Z. Saadah. 1997. Adaptasi beberapa varietas bawang merah di luar musim.Eds. M. Cholil M. dkk.  Prosid. Sem. Hasil Penelitian dan Pengkajian Komoditas Unggulan. Deptan. Balitbangtan. BPTP Karangploso. 210-225.

__________, L. Rosmahani, B. Nusantoro, R.D. Wijadi, M. Mahuri, Koespiatin, S. Fatimah, Riswandi, S.Z. Sa’adah. 1998. Pengkajian paket tehnik budidaya dalam usahatani bawangmerah di luar musim. Eds. Supriyanto  A . dkk. Prosid. Sem. Hasil Penelitian dan Pengkajian Sisitem Usahatani Jawa Timur. Balitbangtan. Puslit Sosek Petanian. BPTP Karangploso. 156-168.
Dibyantoro, A. L. H. 1993. Daya guna insektisida Reldan 24 EC terhadap Spodoptera exigua Hubn. Pada tanaman bawang merah. Buletin Penelitian Hortikultura. 25 (2): 54 – 60.
_________, A. L. H. 1995. Pestisida-toksikologi dan residu pestisida pada produk sayuran. Makalah disajikan pada Pelatiha AP3I-IKABRO, 24 – 29 Juli. 33 hal.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Drh Prop. Drh Tk I Jawa Timur. 1997. Penentuan komoditas tanaman pangan dan hortikultura unggulan Jawa TimurNdan strategi pengembangannya.  Lokakarya Wawasan dan Strategi Pembangunan Pertanian di Jawa Timur Menjelang Abad XXI, Surabaya, 9 – 10 Desember 1997. BPTP Karangploso. 26 hal.
Duriat, A.S., T.A. Soetiarso, L. Prabaningrum, R. Sutarya. 1994. Penerapan Pengenmdalian Hama dan Penyakit Terpadu pada Budidaya Bawang Merah. Balai Penelitian Hortikultura Lembang. Puslitbanghort. Badan Litbang Pertanian.
Grubben, G.J.H. 1990. Timing of vegetable production in Indonesia. Bul. Penel. Hort. XVIII (1): 43 – 53.
Hadisoeganda, W.W., E. Wuryaningsih dan T.K. Moekasan. 1995. Penyakit dan hama bawang merah dan cara pengendaliannya. Dalam. Teknologi Produksi bawang merah. Puslitbanghort. Balitbangtan.Jakarta Hal 57 – 73.
Koster,W.G. 1990.Explorating survey on shallot in rice based cropping system in Brebes. Bul. Penel. Hort. 18 (1):19-30
Rosmahani, L., E. Korlina, Baswarsiati dan F. Kasijadi. 1998. Pengkajian tehnik pengendalian terpadu hama dan penyakit penting bawang merah tanam di luar musim. Eds. Supriyanto  A.dkk. Prosid. Sem.Hasil Penelitian dan Pengkajian Sisitem Usahatani Jawa Timur. Balitbangtan. Puslit Sosek Petanian. BPTP Karangploso. 116-131

____________, Soeyamto, E. Korlina, Baswarsiati. 2001. Identifikasi dan saran pemecahan permasalahan hama ulat bawangmerah di Kab. Probolinggo. Lap. Hasil survey BPTP Jatim. Belum dipublikasi. 6 hal.

Sastrosiswoyo, S. 1996. Sistem Pengendalian Hama Terpadu dalam Menunjang Agribisnis Sayuran. Prosiding Seminar Nasional Komoditas Sayuran. Eds. Duriat, A.S dkk. Balai Penelitian Tan. Sayuran  Bekerjasama dengan PFI Komda Bandung dan CIBA Plant Protection. 15 hal.

Smits, P. H. 1987. Nuclear polyhedrosis Virus as Biological Cointrol Agent of Spodoptera exigua. Lanbouw Universiteit te Wageningen. 127 hal.

Stallen, M.P.K., M.T. Koestoni and A.T.Arifin. 1990. Evaluation of performance of knapsack sprayers used for cultivation of hot pepper and shallots in farmers field. In Improving spraying Techniques for Lowland Vegetables. Internal Communication LEHRI/ATA-395 (22): 9-13.

Sumami, N dan R. Rosliani. 1995. Ekologi bawang merah. Dalam. Teknologi Produksi Bawang Merah. Eds. Soenaryono, H. dkk. Puslitbang Hortikultura, Badan Litbang Pertanian. Jakarta . 12 – 17.

Sutarya, R. 1996. Hama ulat Spodoptera exigua Hubn. pada bawang merah dan strategi pengendaliannya. Jurnal Litbang Pertanian XV (2). 1996: 41 – 46

Suwandi, 1994. Hasil penelitian bawang merah dalam Peliyta V. Evaluasi Hasil Penelitian Hortikultura dalam Pelita V. Puslitbang Hortikultura. Badan Litbang Pertanian. Segunung. 27-29 Juni 1994.

Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 273 hal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar