Minggu, 07 Januari 2018

BENIH CABE

Beberapa Benih Cabe :

A. Cabe Keriting 


1.Lado

#CabaikeritingLado
#cappanahmerah
#tokopertanian5758








2. Laba
#CabaikeritingLaBa
#cappanahmerah
#tokopertanian5758










3. Iggo

Hadir untuk mengisi segmen cabai keriting, Iggo dengan sejumlah keunggulan yang dimilikinya mampu membuat petani yang telah menanam, dan juga yang melihatnya, kepincut. Bahkan, pedagang pun juga berebut untuk mendapatkan ‘si merah hot’ ini.
Cabai keriting satu ini memang masih baru dikenalkan kepada para petani di sejumlah sentra cabai keriting di Indonesia. Salah satunya adalah di kawasan pesisir selatan Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kulonprogo, yang memang sudah terkenal sebagai daerah utama penghasil cabai keriting.
Meski masih baru, varietas hibrida dengan nama Iggo ini hadir dengan sejumlah keunggulan yang menjadi pembeda dari varietas keriting hibrida lain yang lebih dulu ada dan ditanam petani setempat. Keunggulan tersebut tak ayal membuat petani dan juga pedagang cabai merasa ‘jatuh cinta’ dengan cabai ini.
Salah satunya adalah Ratijo, petani sekaligus pedagang pengepul cabai di Desa Glagah, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Dari pertama kalinya dikenalkan, pria paruh baya ini sudah langsung yakin dan tertarik dengan  performa si keriting pedas tersebut.
Iggo niku disenengi bakul (Iggo itu disukai pedagang-red.). Pedagang-pedagang lokal seperti dari Banjarnegara, Purwokerto, dan Yogya sini banyak yang suka dan rebutan, bahkan pedagang yang biasa kirim ke Jakarta sering tidak kebagian barang. Ya, karena sudah diambil pedagang eceran atau lokal itu,” ujar Ratijo.
Menurut Ratijo, para pedagang lebih menyukai Iggo karena karakter buahnya bagus dan berkualitas. “Warnanya merah cerah, ukurannya agak besar, dan lentur. Kalau buahnya lentur itu kualitasnya bagus, kuat dan tahan simpan. Pek-pekane nggih penak, tapi lek kesenggol niku mboten ceblok (petikannya itu mudah, tapi kalau tersenggol buahnya juga tidak mudah jatuh-red.),” terangnya saat ditemui Abdi Tani di rumahnya.
Ratijo sendiri sudah kedua kalinya menanam cabai keriting hibrida terbaru produksi PT BISI International, Tbk. ini. Pertama kalinya mencoba, ia menanam sebanyak 10 bungkus benih atau sekitar 24.000 tanaman. Lantaran puas dengan hasil yang didapat, ia kembali menanam Iggo dengan jumlah yang sama.
“Karena hasil yang pertama itu untungnya lumayan, jadi saya tanam lagi,” kata Ratijo seraya tersenyum lebar.
Ratijo mengungkapkan, pengalaman pertamanya menanam Iggo tersebut telah memberinya kesan yang berbeda hingga membuatnya semakin yakin untuk kembali menanamnya. Saat itu, selain hasil panennya melimpah, harga jual cabai juga cukup bagus.
“Waktu itu harganya lumayan bagus, sampai Rp30.000/kg. Oleh karena itu tanamannya saya rawat terus,” katanya.
Sejatinya, cabai Iggo milik Ratijo saat itu sudah hampir habis pada periode bunga pertama. Namun karena harga jual cabai terus merangkak naik, ia akhirnya mencoba untuk kembali merawatnya dengan memberikan pupuk susulan. Hasilnya pun di luar dugaannya, tunas dan bunga baru kembali bermunculan.
“Batang atasnya banyak yang kering, tapi muncul tunas-tunas baru di bagian bawah dan terus berkembang dan berbuah. Buahnya juga tetap bagus dan normal seperti bunga pertama dulu. Semuanya bisa masuk kelas A, ukurannya panjang dan warnanya merah cerah,” terang Ratijo.
Menurutnya, pendapatan dari membungakan cabai yang kedua kalinya tersebut, atau petani setempat menyebutnya dengan istilah ‘entul’, justru lebih banyak dibandingkan pada periode panenan yang pertama. “Karena harganya pas tinggi, antara Rp28.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kalau periode panen sebelum-sebelumnya kisaran harganya hanya Rp7.000 per kilogram,” ujarnya.
Ratijo mengatakan, periode panen Iggo yang ditanamnya itu terbilang cukup lama. Entulnya sendiri ia panen sampai harga kembali turun di harga Rp3.000/kg. “Kalau dipelihara terus, umurnya bisa sampai setahun. Asalkan harganya masih terus bagus,” katanya.
Dengan periode panen yang cukup lama tersebut, produktivitas cabai keriting hibrida Iggo milik Ratijo itu bisa mencapai lebih dari 2 kg per tanaman. “Kalau dua kilo saya kira lebih, karena tanamannya sendiri masih terus berbuah,” tegas Ratijo.
 Tahan virus dan layu
Di samping karakteristik dan kualitas buahnya yang bagus, keunggulan lain dari Iggo yang disukai para petani adalah ketahanannya terhadap serangan penyakit layu dan virus gemini alias virus kuning. “Tanamannya memang lebih tahan dari layu. (Ketahanan) virusnya juga bagus. Meskipun tanamannya menguning, tapi masih mau berbuah normal. Jumlah yang kena kuning juga hanya beberapa tanaman saja,” ujar Ratijo.
Hal yang sama juga diakui Sudiarto, petani penanam cabai Iggo di Glagah, Temon. Menurutnya, sepanjang pengalamannya menanam cabai keriting ini, permasalahan virus kuning ataupun serangan penyakit layu relatif lebih aman.
“Menurut saya masih aman-aman saja. Ada juga yang kena kuning, tapi sedikit sekali. Bagusnya cabai ini, meski terkena kuning tapi masih mampu berbuah,” kata Sudiarto yang saat ini menanam Iggo untuk yang kedua kalinya sebanyak 9.500 tanaman dan sudah berumur 50 hari.
Meskipun secara genetik Iggo sudah tahan dari serangan virus dan layu, petani cabai seperti Ratijo dan Sudiarto juga tetap memberikan perlindungan tambahan dengan melakukan penyemprotan pestisida sejak dini. “Untuk antisipasi serangan jamur, saya semprot dengan fungisida Victory Mix 8/64WP saat berumur 20 hst sampai tanaman berbuah. Selain untuk mencegah busuk batang (Phytophtora investans), juga untuk mengantisipasi serangan pathek (anthracnose),” ujar Ratijo.
Sementara menurut Andi Wahyono, pemulia tanaman cabai PT BISI, karakter Iggo yang tahan terhadap serangan virus kuning dan layu membuat cabai keriting ini juga memiliki kemampuan recovery atau pemulihan yang lebih baik. Sehingga meskipun terserang virus, tanamannya masih tetap mampu berbuah secara optimal.
“Upaya pengendalian hama dan penyakit juga harus tetap dilakukan. Selain itu, penggunaan pupuk nitrogen juga harus dikurangi. Sangat disarankan untuk memberikan pupuk kalium (K), fosfat (P), dan unsur mikro seperti: tembaga (Cu), besi (Fe), seng (Zn), dan kalsium (Ca),” terang Andi.
Sumber : tanindo.com

4. Kribo











5. Helix

Helix
Cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah dan mudah perawatannya. Pertumbuhan tanaman kuat dan seragam, bentuk buah keriting dengan panjang ± 15.5 cm, diameter ± 0.7 cm, dan rasanya pedas. Umur panen ± 75 hari setelah pindah tanam, tahan penyakit Anthracnose buah dengan potensi hasil ± 20 ton/ha. Kebutuhan benih    100 - 150 g/ha.




6. Djitu
#CabaiKeritingDjitu
#matahariseed
#tokopertanian5758


 

 

 

7. Laju F1

 

#CabaikeritingLaju
#cappanahmerah
#tokopertanian5758

 

 

 

 

 

 

B. CABE RAWIT 


1. Bara 
Cabe rawit non-hibrida tipe C. Annuum non-hibrida, untuk dataran rendah - tinggi, cabang banyak, genjah dan produktif. Buah tegak dan lebat, warna buah hijau terang, mengkilap, sangat pedas, tahan layu bakteri. Umur panen 115 - 120 HST, produksi 0,4 - 0,5 kg/tanaman, 9 - 10 ton/ha
#Cabairawitbara
#cappanahmerah
#tokopertanian5758





Tidak ada komentar:

Posting Komentar